Desa Tlaga

Desa Tlaga

Kamis, 05 Agustus 2010

Pabrik Komoditas

Teringat masa kecil dimana ada pabrik minyak atsiri dari daun cengkih dan dilem (nilam) yang berlokasi di Djayim dan Sumber. Harumnya ketika melewati pabrik itu dan ramainya anak-anak yang bermain ketika sore di sekitar pabrik.

Berangkat dari situ, rasanya ingin sekali menggarap prospek ini dengan berbagai pertimbangan baik bisnis maupun sosial ekonomi. Yang paling masuk akal diadakan kembali pabrik komoditas adalah karena warga Tlaga yang masih banyak menjual rempah maupun komoditas perkebunan lainnya. Saat ini kapulaga menjadi primadona para penderes getah pinus menjadi sampingan yang menggiurkan. 1 Kg kapulaga kering bisa dijual dengan harga Rp. 50.000 padahal perawatan tanaman kapulaga tergolong ringan dan nyaris tanpa hama berarti. Belum lagi dari hasil perkebunan lain seperti: Merica, Kemukus, Cengkih dan lainnya.

Untuk pabrik tepung tapioka sudah menjamur di banyak tempat di wilayah Kecamatan Gumelar, termasuk di Desa Tlaga. Minyak atsiri dari daun sereh maupun nilam perlu kiranya dapat perhatian dari pemilik modal untuk menggarap dengan manajemen terkini. SDM menjadi poin penting untuk menyelenggarakan suatu jenis usaha padat karya.

Beberapa persiapan yang perlu dikaji adalah sebagai berikut:
1. Alat dan mesin
2. Ketersediaan Bahan baku
3. Pekerja dan sistem upah
4. Perawatan alat dan mesin
5. Sistem pemasaran
6. Penunjukan broker
7. Dan lain sebagainya

Bukan hal mudah memang untuk membuat sebuah pabrik dengan banyak kepentingan, tentu akan riskan terhadap gesekan. Maka dari itu apapun usaha yang akan dirintis perlu dimulainya penanganan secara profesional dan jauh dari antar pribadi.

Rabu, 04 Agustus 2010

Sejangkau Siar

Menikmati siaran radio dari stasiun lokal dengan bahasa pengantar khas nGguumelaran, terasa sekali sensasinya. Banyolan dan cara berkomunikasi dengan pendengar sungguh membuat saya terhibur. Dan pasti bukan cuma saya yang terhibur dengan siaran radio FM dari kota kecamatan Gumelar ini, selain pembawaanya yang membumi, lagu-lagu yang disuguhkan juga ringan dan sesuai dengan kondisi kedaerahan.
Pengiklan di radio tersebut sudah mulai beragam, dari toko kelontong hingga meubel bahkan hingga penyedia sarana hajatan. Bila ada iklan yang harus pakai model, tentu saja menggunakan bahasa Jawa Gumelaran. Mendengarkan bagi saya memang lebih terasa khasiatnya dari pada menonton. Maka ketika ada frekuensi FM yang dipakai oleh para tim kreatif muda dari Gumelar beberapa tahun yang lalu, saya sering menikmati di sela-sela santai di rumah bersama keluarga. Dewasa ini tontonan di televisi sangat sedikit yang memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya dan anak-anak pada khususnya.
Radio, di manapun tempatnya selalu menjadi kenangan tersendiri bagi para pendengarnya. Selain itu seringkali menjadi inspirasi bagi para muda untuk lebih menghargai informasi melalui radio, sekaligus sebagai sarana untuk melatih sebagai pendengar yang baik.
Dearah Tlaga sangat baik dalam hal menerima gelombang siaran radio Hiba FM ini, dan warga masyarakat sering berkoresponden baik melalui sms maupun kartu atensi yang dijual di warung-warung terdekat.
Mimpi saya pun terwujud oleh orang lain yang lebih dulu punya kesempatan..

Selasa, 03 Agustus 2010

PAM masuk Tlaga

Paralon merk Wavin dari ukuran besar hingg sedang bertumpuk di setiap pinggir jalan, namun yang paling banyak terlihat adalah di kediaman Pak Rindam, dimana rumah tersebut sebagai basis operasional PT PDAM dari Purwokerto. Bulan Mei 2010 dimulainya pekerjaan penggalian di sepanjang jalan dari ujung utara desa Tlaga. Beberapa warga setempat diikutsertakan dalam pekerjaan mulai dari sumber air yang berpusat di Presil, hingga menggali sepanjang jalan yang dilalui paralon tersebut.

Menurut sumber terpercaya, sasaran utama adalah untuk memenuhi warga masyarakat Tlaga untuk menikmati air pegunungan yang bersih dan higienis. Karena di beberapa titik memang sangat rawan air ketika datang musim kemarau.

Bersyukur, sampai saat ini tempat hunian kami punya suplay air yang cukup , didapet langsung dari bukit, mata air dari pohon mbulu yang ada di tengah-tengah pohon pinus. Dengan menggunakan tenaga grafitasi yang ada kami di grumbul J-lo (jambenom Lor -red) masing-masing memasang paralon atau selang dan masuk ke rumah-rumah.

Pada kesempatan yang lalu saya sempatkan ngobrol dengan PakRT 01 bahwa kiranya perlu diadakan penertiban terhadap berseliwernya aneka macam transporter air yang mengganggu pemandangan dan rawan konflik antar warga. Meskipun sampai saat ini belum pernah terjadi saling ngotot atau baku hantam gara-gara air. Semua masih terlihat normal dan alami, menjaga tenggang rasa, dan bila ada yang menemukan selang/pralon yang putus di tengah jalan, tentu kami akan saling menolong untuk menyambungkan kembali. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, pembangunan rumah yang makin padat, tidak ada salahnya bila hal vital tersebut diantisipasi untuk dibuatkan penampung air bersama, sehingga dari pusat mata air hanya satu pralon besar dan masuk ke penampung yang kemudian seluruh warga akan mendapat lobang distribusi untuk diteruskan ke masing-masing rumah.

Ketika berlimpah, kehilangan tidak akan menjadi hal besar
ketika kekurangan, akan terasa betapa bergunanya sesuatu.
Menjaga hutan lestari, adalah menjaga persediaan air ketika benar-benar dibutuhkan.

3 Masa Tanam

Memperhatikan musim tahun ini di Tlaga sebenarnya sangat menghibur bagi para petani padi. Bagaimana tidak, Anugerah alam yang murah dengan datangnya musim hujan dari akhir 2009 lalu sampai saat ini masih terus mengguyur setiap hari. Jeda terik mentari di sela-selanya pasti anugerah juga bagi semua mahluk yang bernama tumbuhan untuk memasak aneka nutrisi dari akar untuk menumbuhkan daun, dahan dan ranting baru, kuncup bunga dan menonjolkan putik.

Para petani yang memiliki sawah tentuh senyum sumringah setiap pergi ke pematang untuk matun (menyiangi gulma) atau mempersiapkan petak untuk digarap kembali. Sangat jarang terlihat ada pemuda yang terlibat dalam masa tanam ini. Kebanyakan dari mereka adalah para usia lanjut yang memang sudah terbiasa dengan lumpur dan cangkul.

Seolah tidak mau tahu atau memang tidak ada informasi yang mereka dapatkan, para petani terus dengan jerih payah mengolah lahan yang baru beberapa hari yang lalu dengan sawah menguning dengan bulir-bulir padi yang mrisih. Anggapan bahwa musim hujan tidak tentu datang seindah kali ini, maka aji mumpung segera diterapkan dengan menghajar tanah untuk terus ditanam dengan komoditas yang sama, varietas padi yang sama tanpa jeda sedikitpun untuk tanah dalam menetralisir tingkat keasaman, kesuburan, dan kegemburan.

Dapat dilihat, saat ini beberapa lahan persawahan yang sudah ditanam padi untuk masa ke-tiga terlihat tidak sesubur sebelumnya. Ujung daun kecoklatan dan beberapa tidak tumbuh normal, meski pupuk terus dimuntahkan dari karung warna putih.

Entah kata sakti apa untuk bisa merubah cara pandang petani di kampungku untuk tidak sesering mungkin memakai pupuk kimia. Padahal pupuk kandang dari ternak masing-masing yang mereka miliki sudah cukup untuk ditebarkan di lahan pertanian. Kalau dalam setahun berharap panen 3x dengan asumsi bayangan keuntungan sekian, tetapi alam tidak bisa menghitung untung rugi, dia hanya tahu hukum sebab akibat.

Hanya dari mulut ke mulut saya sudah beberapa kali pada diskusi tidak formal menyampaikan akan pentingnya penggunaan pupuk kandang, atau runggang dari kandang sapi atau kambing. Tanah tlaga sudah kenyang dengan pupuk buatan, mungkin sudah iritasi kalau itu terjadi pada manusia. Maka tidaklah berlebihan kalau di masa tanam yang ke tiga kali ini, alam sementara tidak mau bermurah hati.

Yuk, kurangi penggunaan pestisida dan pupuk buatan.
Majulah Tlaga